Tampilkan postingan dengan label Wisata Rohani. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Wisata Rohani. Tampilkan semua postingan

Senin, 04 Agustus 2014

印尼语


三 保洞(印尼语:Klenteng Sam Po Kong),也称三宝洞或三宝庙,是印度尼西亚三宝垄最古老的中国寺庙建筑群,最初由明代航海家郑和建立。尽管其最初建立时是为了伊斯兰教的礼拜使用,现 在佛教等其他宗教的活动也会在此地举行,其使用者也包括汉族和爪哇族等多个种族

三保洞最初建立的具体年代存在争议,大致处于公元1400年到1416年之间,但一般认为其是由明代航海家郑和通过卡琅河到达今天的三宝垄西部时建立的。在郑和的船队登陆后,作为穆斯林的郑和在一个石山附近找到一个洞穴并以其作为礼拜的场所使用。他在离开爪哇岛之前建立了一个小的庙宇,同时有说法认为其出于对这片地方的喜爱留下了他的副手王景弘。洞中安放了一尊郑和雕像。据记载,郑和建立的庙宇在1704年的一次山崩中被毁,并于1724年重建完成。重建包括新的洞穴,和原有的洞穴相邻。

18世纪中期,犹太裔地主约翰内斯(英语:Johanes)取得了三保洞及其附近的土地的所有权,开始向祭祀者收取费用。由于费用过高,华人社团只好每年 支付2000荷兰盾来进行祭祀;这一数额后来通过还价降低到了500盾。由于这一数额仍然过高,华人社团转而祭祀供奉于5公里(3.1英里)外的大觉寺中 的保生大帝雕像,并称之为“小三宝”。其后,当地华人又集资从中国引进了另一尊郑和雕像,并供奉于大觉寺中。1879年,当地的富商黃志信从逝世的犹太裔 地主手中购得三保洞及其附近的土地,并将之免费开放。作为回应,当地华人进行了游行以示庆祝,并开始重新回到三保洞祭祀1924年,三保洞的所有权被转交 给了三保洞基金会。

Senin, 27 Mei 2013

Ziarah di Goa Maria Tritis

Bulan Mei merupakan bulan Maria, dimana umat Katolik untuk menghormati Bunda Maria biasanya melakukan doa rosario baik di lingkungan keluarga, masyarakat dan sekolah. Ada umat katolik mengadakan doa itu di rumah, dan mereka keliling. Ada juga yang berdoa di tempat ziarah bersama umat lingkungan setempat. Biasanya sebagai "Gong Penutupan" mereka berziarah. Ujud doanya pun masing-masing orang berbeda.  Tidak hanya doa Rosario yang mereka lakukan di tempat ziarah, tetapi juga  Doa Novena Tiga Salam Maria.
Nah, hari Sabtu tanggal 25 Mei 2013 kebetulan libur, bertepatan dengan Hari raya Waisak,  aku pergi ke Goa maria Tritis Wonosari Yogyakarta bersama umat Wilayah Tridadi, paroki Santo Aloysius Gonzaga Mlati. Di Yogyakarta banyak sekali tempat ziarah, antara lain Sendangsono, Kulonprogo; Sriningsih. Aku dan rombongan dari sudah sampai ditujuan ziarah pukul 09.30 ternyata sudah banyak umat berziarah.  Rencana awal doa rosario, tetapi pada kesempatan ini kebetulan ada misa jam 10.00 wib. Ya, kebetulan banget, momen yang pas.
Sebelum misa dimulai, petugas memulai dengan doa Rosario. Setelah rosario, aku bersama umat lain menunggu sekitar 30 menit karena romo yang memimpin misa belum hadir. Lama-lama umat yang berziarah ke Goa Maria semakin banyak. ya maklum saja, liburan Sabtu-Minggu, pas bulan Maria. Untuk misa ini dipimpin oleh Romo Warsito dari Kentungan Yogyakarta.  Kira-kira umat yang mengikuti misa jumlahnya 400 umat. Mereka  sampai rela berdiri di mulut Goa Maria tersebut. Selain dari Wonosari, umat  datang dari bebarapa daerah di Yogyakarta. Ada yang dari Paroki Kentungan, Paroki  Santo Aloysius Gonzaga Mlati,  Kulonprogo. Ada pula dari luar D.I Yogyakarta, yaitu Semarang, Sragen, dan Banjarmasin. Misa pun berjalan lancar, dan kotbah romo sangat menyentuh.










Setelah mengikuti misa, aku berkeliling sekitar Goa Tritis dan foto-foto











Senin, 13 Februari 2012

Ziarah ke Sendang Sriningsih



Sendang Sriningsih,

Mengunjungi tempat ziarah, seperti gua maria. Ada banyak tempat ziarah di Pulau Jawa, terutama di sekitar Yogyakarta. Salah satunya adalah Sendang Sriningsih. Sendang Sriningsih, tempat ziarah berupa mata air abadi dan Gua Maria, yang terletak di Gayamharjo, antara Bukit Ijo dan Mintorogo. Dapat dicapai dengan kendaraan bermotor, berjalan ke selatan setelah sampai di persimpangan pertama setelah Candi Prambanan. Pada musim semi ada di samping musim semi yang memegang air yang selalu mengalir, ada juga rumah joglo yang didalamnya terdapat patung Perawan Maria memegang bayi Yesus.
Sejarah Sendang Sriningsih

Sejarah Sendang Sriningsih dimulai pada 1934, ketika seorang imam Jesuit bernama D Hardjosuwondo SJ yang ditugaskan di desa Jali mengunjungi tempat yang dulu disebut Sendang Duren. Terpesona dengan aura spiritual dari tempat itu, Beliau kemudian dibangun lokasi di sekitar mata air menjadi tempat ziarah dan ia kemudian menamakannya Sendang Sriningsih, artinya media berkat Tuhan kepada umat-Nya.

Setelah Anda tiba tempat itu, anda bisa langsung memulai proses perayaan dengan melacak jalan salib. Rute ini dirancang dalam bentuk naik tangga sepanjang kurang lebih 900 meter. Seperti rute jalan salib dibuat lain, ada bantuan di sepanjang jalan menceritakan perjalanan Yesus memikul salib kayu. mungkin kita berkata dalam doa, saat pelacakan rute. Jalan salib, berakhir ketika kita datang ke kecil pertigaan, belok kanan dan melihat sebuah salib besar dengan patung Yesus dipaku di kayu salib. Lokasi lintas bernama persis sama dengan bukit tempat Yesus disalibkan, yaitu Golgota. Anda bisa menyalakan lilin di bawah salib dan memanjatkan doa kita.

Jika kita ingin membaca musim semi dan Gua Maria, kita beralih ditinggalkan dari kecil Anda pertigaan. Sejalan dengan cerita, Sendang Sriningsih ternyata menjadi sebuah danau di bawah bumi dan bank strategi disemen serta bagian atas disertakan dengan piring untuk menyimpan air bersih. Untuk memindahkan air, kita dapat membuka kran di sepanjang sisi kanan musim semi khas. Tentu saja ada keyakinan bahwa air kolam dapat menyembuhkan illnesses.As setinggi empat meter Gua Maria di mana umat melaksanakan pengabdian terletak dengan hak pegas khas. Tempat itu sangat luas dan sejuk untuk berharap di bawah pohon besar. Pada saat Natal, ada banyak peziarah berdoa di dalam ini Gua Maria. Biasanya, orang yang tersedia dalam kelompok atau dengan sanak keluarga. Berjalan ke kiri keluar dari gua kita berakhir ke atas, kita akan melihat Palang besar secara tertulis di bagian belakang membaca tersier milenium, melambangkan perubahan milenium. Jika kita melihat lurus ke depan, Anda akan melihat pemandangan bukit hijau dan perumahan di seluruh daerah. Setelah kita lelah, kita akan dapat beristirahat di dalam tempat penampungan sambil menikmati angin.

Libur Hari Natal akan menjadi luar biasa jika kita sedang berlibur pada saat yang sama meningkatkan iman kita dengan mengunjungi kuil Sriningsih Sendang. Liburan Natal dan Tahun Baru bersama keluarga akan menjadi lebih hidup, jika kita dengan keluarga tercinta mengunjungi Sendang Sriningsih.

Dokumen Petualangan Veri Mei 2005




Gua Maria Tritis Wonosari



Semua orang tahu tentang Gua Maria Lourdes, kita dapat menemukannya di Perancis. Dan ini Gua Maria menjadi inspirasi bagi banyak negara dan kota. Demikian juga ketika kami mengunjungi Jogja. Kami menemukan beberapa Gua Maria juga. Salah satunya adalah Gua Tritis. Gua ini disebut-sebut sebagai Gua Maria yang eksotis.

Gua Tritis terletak di Wonosari, selatan Jogja. Gua ini terletak di bukit Pegunungan Seribu, Dusun Bulu, Kabupaten Gunung Kidul, Wonosari. Untuk mencapai tempat ini kita membutuhkan waktu sekitar 1,5 jam atau 50 kilometer dari pusat kota. Tampak jauh dan memakan waktu yang lama, menurut Saya rasa tidak. Karena kita dapat melihat pemandangan yang indah dengan cara lama.


Pertama, gua ini bernama Gua Tritis Singkil. Tempat ini dikenal sebagai tempat angker karena gua ini sangat tenang dan jauh dari rutinitas masyarakat. Jadi, banyak orang menggunakan tempat ini untuk pertapaan. Setelah itu kesan mengerikan gua ini secara bertahap menghilang. Sekarang ini gua terkenal sebagai Gua Tritis dan banyak umat Katolik datang ke sini untuk berdoa. Biasanya banyak dari mereka datang ke tempat ini pada Mei atau Oktober karena kedua bulan ini dikenal sebagai bulan Maria.

Tidak mudah untuk tiba gua ini. Dari area parkir kita perlu mengambil 2 kilometer untuk jarak dengan berjalan kaki. Dilalui oleh jalan berliku dan kendaraan tidak dapat dilewati. Dalam perjalanan kita akan menemukan anak-anak atau orang lokal yang memberikan arah sehingga kita dapat mencapai gua lebih cepat dan lebih aman. Sebelum pengunjung mencapai gua biasanya mereka melakukan jalan salib. Ada 14 pemberhentian yang harus dilalui terlebih dahulu. Sesampainya di Bukit Golgota, kita dapat melihat situasi yang sama dengan aslinya. Ada tiga salib besar di mana Yesus disalibkan dengan Barnabas.

Kata Tritis diambil dari bahasa Jawa itu berarti tetesan air. Tetesan air di gua cames dari langit-langit gua. Gua ini masih terlihat alami dan dihiasi dengan stalaktit dan stalagmit itu sebabnya terlihat eksotis. Banyak orang menafsirkan tetesan air dengan berkat Tuhan yang turun kepada pengunjung. Dan air menjadi simbol dari kehidupan manusia apa eksistensi manusia seharusnya diterima. Itulah semangat kesederhanaan Gua Tritis.

Selain itu para pengunjung keyakinan bahwa air dapat menyembuhkan berbagai penyakit. Jadi setelah berdoa mereka mengambil air untuk beberapa botol dan membawanya pulang. Selanjutnya air ini menjadi berkat khusus bagi warga sekitar. Karena kondisi alam sekitarnya adalah orang tandus dan lokal yang digunakan untuk kebutuhan sehari-hari.

>> Dokumen Petualangan Veri Oktober 2004




Sabtu, 28 Januari 2012

Wisata Rohani di Ambarawa



Jumat, 27 Januari 2012 Berziarah ke Goa Maria Kerep Ambarawa, merupakan kunjunganku yang tak terhitung lagi. Karena setelah menyelesaikan SMA, aku melanjutkan di Ambarawa. Dari arah semarang menggunakan Bus Semarang-Ambarawa turun di Terminal Ambarawa. Sebelum Menuju GMKA (Goa maria Kerep Ambarawa) singgah sebentar di Monumen Palagan. Saat ini monumen tersebut direnovasi. Melihat saja, sampai mana renovasinya.

Foto ini merakan sebuah peringatan dimana dula pernah ada pertempuran di Ambarawa.

Monumen Palagan merupakan sebagai tanda bahwa di Ambarawa pernah terjadi perang melawan penjajah dan banyak pahlawan yang gugur. Untuk menghormati para pejuang, maka didirikannya monumen Palagan Ambarawa
NEXT.......... Yuk lanjutin perjalananya...
Setelah sejenak menikmati, menyaksikan renovasi di monumen, aku melanjutkan perjalanan menuju Terminal Ambarawa sejauh kurang lebih 100M. Didepan terminal, ada Plang 900M menuju Goa Maria Kerep Ambarawa. Ada dua alternatif, jalan kaki atau naik angkutan umum (kol Tuyul) berwarna biru.

nah ini Pintu Masuk GMKA

Peresmian Taman Goa maria Kerep Ambarawa Oleh MGR Ignatius Suharyo (Uskup Agung Semarang)

Begitu asrinya Taman DOA Goa Kerep Ambarawa

Mejeng dulu ya heheheh ^^

Menatap jauh.. menikmati udara pagi...



Perhentian 12 Yesus di Salib
>>> NEXT.....
Setelah aku selesai berdoa, kulanjutkan kembali perjalanan menuju Gereja Jago Ambarawa. Ku lewati jalan pintas, menyusuri galengan sawah...



Begitu Hijaunya padi-padi di sawah, dan udara yang segar....


>>>NEXT....
Sampai sudah di gereja Jago...
Unik Bukan Gerejanya?? Ya,... Gereja ini merupakan gereja yang unik, karena memiliki jago diatasnya. jagonya Mati, sepertinya terbuat dari seng/logam...




Jumat, 13 Januari 2012

Vihara Buddhagaya


Vihara Buddhagaya Watugong adalah sebuah Vihara yang diresmikan pada 2006 lalu dan dinyatakan MURI sebagai pagoda tertinggi di Indonesia. Vihara Buddhagaya Watugong terletak 45 menit dari pusat Kota Semarang. Vihara ini memiliki banyak bangunan dan berada di area yang luas.

Salah satu ikon yang paling terkenal di vihara ini adalah Pagoda Avalokitesvara (Metta Karuna), dimana didalamnya terdapat Buddha Rupang yang besar. Pagoda Avalokitesvara yang memiliki tinggi bangunan setinggi 45 meter dengan 7 tingkat, yang bermakna bahwa seorang pertapa akan mencapai kesucian dalam tingkat ketujuh.

Bagian dalam pagoda berbentuk segi delapan dengan ukuran 15 x 15 meter. Mulai tingkat kedua hingga keenam dipasang patung Dewi Kwan Im (Dewi Welas Asih) yang menghadap empat penjuru angin. Hal ini bertujuan agar sang dewi memancarkan kasih sayangnya ke segala arah mata angin.

Pada tingkat ketujuh terdapat patung Amitaba, yakni guru besar para dewa dan manusia. Dibagian puncak pagoda terdapat Stupa untuk menyimpan relik (butir-butir mutiara) yang keluar dari Sang Buddha. Bagian depan pagoda juga terdapat patung Dewi Welas Asih serta Sang Buddha yang duduk dibawah pohon Bodi.

Di Komplek Vihara juga terdapat cotage untuk para tamu menginap. Tepat di depan cotage terdapat Bangunan Dhammasala. Bangunan ini terdiri dari dua lantai, lantai dasar digunakan untuk ruang aula serbaguna yang luas dengan sebuah panggung didepannya sedangkan lantai atas untuk ruang Dhammasala.

Pada bagian tembok pagar disekiling dhammasala terdapat relief yang menceritakan tentang paticasamupada. Dengan melihat relief ini kita akan lebih mudah memahami konsep paticasamupada

Semuanya bagian dalam komplek Vihara ditata dengan rapi dipadukan dengan keasrian lingkungannya serta ditambah dengan keindahan arsitektur Tiongkok menjadikan tempat ini relatif menyenangkan untuk berziarah serta beribadah maupun sekedar mampir untuk istirahat melepas lelah karena dalam perjalanan.

Jika sedang berwisata ke Semarang, tidak ada salahnya meluangkan waktu untuk mengunjungi salah satu obyek wisata Kota Semarang

Camera: HP SonyEricsson K580i

Selasa, 13 Desember 2011

Gereja Blenduk di Semarang


Bangunan gereja yang sekarang merupakan bangunan setangkup dengan facade tunggal yang secara vertikal terbagi atas tiga bagian. Bangunan ini menghadap ke Selatan. Lantai bangunan hampir sama tinggi dengan jalan di depannya. Pondasi yang digunakan terbuat dari batu dan sistem strukturnya dari bata. Dinding terbuat dari bata setebal satu batu. Atap bangunan berbentuk kubah dengan penutupnya lapisan logam yang dibentuk oleh usuk kayu jati. Di bawah pengakiran kubah terdapat lubang cahaya yang menyinari ruang dalam yang luas.

Pada sisi bangunan, Timur, Selatan dan Barat terdapat portico bergaya Dorik Romawi yang beratap pelana. Gereja ini memiliki dua buah Menara dikiri kanan Yang denahnya dasar berbentuk bujur sangkat tetapi pada lapisan paling atas berbentuk bundar. Menara ini beratap kubah kecil. Cornice yang ada disekililing bangunan berbentuk garis-garis mendatar.

Pintu masuk merupakan pintu ganda dari panel kayu. Ambang atas pintu berbentuk lengkung. Demikian pula halnya dengan ambang atas jendela, yang berbentuk busur. Tipe jendela ada dua kelompok. Pertama, jendela ganda berdaun krepyak, sedangkan yang kedua merupakan jendela kaca warna-warni berbingkai. Bangunan yang terkait di sekitar Gereja Blenduk adalah Gedung Jiwasraya yang terletak di sebelah Selatan, kantor Kerta Niaga di sebelah Barat, ruang terbuka bekas Parade Plein di sebelah Timurnya.

Gereja Blenduk sudah berganti rupa beberapa kali. Mula-mula Gereja di bangun pada tahun 1753, berbentuk rumah panggung Jawa, dengan atap yang sesuai dengan arsitektur Jawa. Hal ini dapat dilihat pada peta kota Semarang tahun 1756 yang menunjukkan konfigurasi massa yang berbeda dari sekarang. Pada tahun 1787 rumah panggung ini dirombak total.

Tujuh tahun berikutnya diadakan kembali perubahan. Pada tahun 1894, gedung ini dibangun kembali oleh H.P.A. de Wilde dan W.Westmas dengan bentuk seperti sekarang ini. Yaitu dengan dua menara dan atap kubah. Keterangan mengenai Wilde dan Wetmas tertulis pada kolom di belakang mimbar.

Rabu, 27 Juli 2011

Goa Maria Lourdes Sendangsono

Goa SendangsonoTerletak di Desa Banjaroyo, Kecamatan Kalibawang, Kabupaten Kulon Progo, DI Yogyakarta, Sendangsono adalah tempat ziarah Goa Maria yang dikelola oleh Paroki St. Maria Lourdes di Promasan, barat laut Yogyakarta.

Sendangsono dapat ditempuh dalam waktu sekitar 15 menit dari jalan raya Wates dengan melewati jalan yang relatif sempit kecil menuju ke arah barat. Meski relatif sempit dan berliku, namun jalan tersebut bisa dibilang mulus itu bisa dilewati mobil dengan cukup leluasa.

Memasuki komplek ziarah yang luasnya hampir satu hektar ini, peziarah akan melewati jalan salib besar yang dimulai dari gereja yang ada di bagian bawah kompleks Sendangsono. Rute jalan salib kurang lebih berjarak satu kilometer hingga ke pemberhentian terakhir di atas Sendang.

Selain sebagai tempat yang ramai dikunjungi peziarah dari seluruh Indonesia khususnya pada bulan Maria yakni Mei dan bulan Oktober, tempat ini juga digunakan para peziarah untuk mengambil air yang bersumber dari sendang dipercaya berkhasiat menyembuhkan penyakit.

Awalnya, menurut sejumlah sumber, Sendangsono merupakan tempat pemberhentian atau peristirahat sejenak para pejalan kaki dari Kecamatan Borobudur Magelang ke Kecamatan Boro (Kulon Progo) atau sebaliknya. Konon, tempat itu banyak dikunjungi karena keberadaan sendang atau mata air yang muncul di antara dua pohon sono.

Kesejukan dan kenyamanan tempat itu ternyata juga dimanfaatkan untuk bertapa oleh sejumlah rohaniawan Buddha dalam rangka mensucikan dan menyepikan diri.

Nilai spiritualistik muncul dan menguat seiring dengan adanya kepercayaan yang didasarkan pada suatu legenda bahwa tempat itu juga dihuni Dewi Lantamsari dan putra tunggalnya, Den Baguse Samija.

Dari situ bisa dilihat bahwa sebenarnya nilai rohani Sendangsono sudah terbangun bahkan sebelum Gereja Katolik berkarya di tempat itu.

Keberadaan Sendangsono tak luput dari peran Romo Van Lith SJ, rohaniawan Belanda yang lama tinggal di Pulau Jawa. Hal itu juga menandakan bahwa Sendangsono tidak bisa dilepaskan dari lingkaran sejarah Gereja Katolik di Pulau Jawa mengingat Romo Van Lith sendiri merupakan salah satu rohaniwan yang menyebarkan ajaran Katolik di Pulau Jawa.

Sejarah Sendangsono

Pada 14 Desember 1904 silam Romo Van Lith membaptis 171 warga setempat dengan air dari kedua pohon sono, termasuk Bapak Barnabas sebagai katekumen pertama.

Dua puluh lima tahun kemudian tepatnya 8 Desember 1929 Sendangsono dinyatakan resmi menjadi tempat penziarahan oleh Romo J.B. Prennthaler SJ.

Patung Bunda Maria di Sendangsono dipersembahkan oleh Ratu Spanyol yang begitu susahnya diangkat beramai-ramai naik dari bawah Desa Sentolo oleh umat Kalibawang.

Pada 1945 Pemuda Katolik Indonesia berkesempatan berziarah ke Lourdes, dari sana mereka membawa batu tempat penampakan Bunda Maria untuk ditanamkan di bawah kaki Bunda Maria Sendangsono sebagai reliqui sehingga Sendangsono disebut Gua Maria Lourdes Sendang Sono.

Dibangun secara bertahap sejak tahun 1974, hanya dengan mengandalkan sumbangan umat. Budayawan dan rohaniawan, YB Mangunwijaya yang memberi sentuhan arsitektur. Konsep pembangunan kompleks Sendangsono ini bernuansa Jawa, ramah lingkungan. Bahan bangunannya memanfaatkan hasil alam.

Tahun 1991, kompleks bangunan Sendangsono mendapat penghargaan arsitektur terbaik dari ikatan arsitek Indonesia, untuk kategori kelompok bangunan khusus.

Pada 17 Oktober 2004 dengan diadakan suatu prosesi dan misa ekaristi kudus pada jam 10.00 oleh Mgr. Ign. Suharyo Pr. untuk memperingati 100 tahun Sendangsono.

Rabu, 26 Januari 2011

Petualangan Veri ke Ambarawa

GUA MARIA KEREP AMBARAWA






Gua Maria Kerep Ambarawa (GMKA) merupakan tempat ziarah umat Kristiani. Francois_veri atau yang akrap disapa Penyu ini pernah mengunjungi tempat ini. Saat itu Francois_veri masih kuliah di DII PGSD Soegijapranata Jl. Palagan 56 Bawen Kabupaten Semarang. GMKA sangat cocok sekali untuk dikunjungi. Pada saat itu GMKA selesai direhab. Petualangan ini ziarah terakhir adalah bulan Juni 2005 dan kemudian melanjutkan perjalanan berpetualang mengelilingi Ambarawa-Bedono dengan menaiki kereta uap Th.1902. Sangat seru saat itu, sehat rohani dan otak. Sekarang ini Penyu kangen ingin ziarah lagi...